Selasa, 27 Juli 2010 22:57
Saul: Pepera Hasil Rekayasa Bukan Murni
JAYAPURA—Pernyataan Mantan Tokoh OPM, Nicholas Meset yang menyebutkan Papua final dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdasarkan Mahkamah Internasional, mulai mengundang kontra, kali ini datang dari rekan-rekan seperjuangnya.
Kepada media ini, Selasa (27/7) malam kemarin, Juru Bicara Political West Papua Saul Bomoy kepada Bintang Papua mengatakan, pernyataan Nicholas Meset merupakan pembohongan terhadap perjuangan rakyat Papua Barat yang dilakukan, karena berada dalam tekanan dan keterpaksaan.
Menurutnya, Pepera 1969 itu belum final dan Mahkamah Internasional maupun badan keamanan dunia (PBB) sejak tahun 1969 hingga saat ini tidak pernah mengeluarka pernyataan ataupun keputusan yang menyebutkan bahwa Papua merupakan bagian dari NKRI.
“Papua dalam NKRI itu karena hasil rekayasa Pepera 1969, hasil rekayasa bukan murni,” tegasnya mengulang.
Oleh karena itu pihaknya, lanjut Bomoi, menyarankan kepada Nicolas Meset untuk menghentikan manuver politiknya yang selalu menyebutkan bahwa Papua sudah final dalam NKRI , karena hal tersebut adalah pembohongan, sebaiknya Nicholas Meset memilih diam dan tidak banyak berkomentar soal masalah Politik Papua.
“Jangan terus menutupi kebenaran, kau sebaiknya pasimaut, (tutup mulut) dan kau sudah kalah dalam berpolitik bagi Papua Barat, yu tipu dan yu, tutup mulut dan diam-diam di Papua kita berdosa terhadap rakyat Papua Barat,” ungkapnya.
Bomoy yang juga merupakan korban Daerah Operasi Militer (DOM) menegaskan bahwa ferendum rakyat Papua Barat merupakan satu-satunya cara paling demokratis di dunia.
“Ini mekanisme demokrasi, hukum dan humanisme (HAM) untuk penentuan nasib sendiri, sesuai dengan declaration of humanisme and united nation,” terangnya.
Dia juga menuding bahwa manuver politik yang dilakukan Nicholas Meset karena yang bersangkutan telah buat kontrak politik dengan Pemerintah Indonesia sehingga hal itu bisa dimaklumi.
“Dialog antara pemerintah RI dengan Rakyat Indonesia juga harus dihentikan karena itu bukan solusi, itu memperumit serta memperpanjang konflik di Papua Barat,” singgungnya.(hen)
sumber:
http://www.bintangpapua.com/index.php?option=com_content&view=article&id=6225:sebut-pepera-final-meset-dinilai-keliru-&catid=25:headline&Itemid=96
Titihan Dan Harapan Ku... Kini Hanya Kepada Mu, Ya... "KEBENARAN KU". Moga Kamu Nyata Di Negri Ku PAPUA.
Selasa, 27 Juli 2010
BANYAK INTELIJEN MENJEJAKI KAMPUS UNIVERSITAS CENDERAWASIH

Intervensi Intelijen Senin 26 July 2010, Mematikan Pisikologi Mahasiswa dan Dosan UNCEN
Ketika Isu protes diwacanakan karena tidak adanya keberpihakan pihak UNCEN atas penerimaan mahasiswa asli Papua, yang sebelumnya atas permintaan mahasiswa papua adalah 90-95% adalah orang asli Papua dan selebihnya adalah non-papua, maka hal itu kemudian menggelisakan para intel. Diduga intel-intel tersebut kebanyakan dari pihak kepolisian.
Berhamburannya Intel di Uncen pada pukul 08.00-12.00, membingungkan mahasiswa yang hendak mendatangi kampusnya. Banyak pertanyaan pun muncul di antara mahasiswa dan hendak bertanya, mau apa Intel-intel ini ke kampus. 7 orang dari intel itu pun masuk sampai ke dalam ruang kampus di ruang rektorat lama, tempat di mana rencana dilakukan pertemuan antara perwakilan mahasiswa dan rector hendak berjumpa untuk membahas penerimaan mahasiswa baru tersebut. sementara banyaknya intel lain beramburan di halaman kampus uncen, dan diperkirakan sampai 30 orang intel.
Melihat situasi yang dihadiri oleh 7 orang intel tersebut, seorang mahasiswa (Benny) berdiri dan mengusir para Intel yang masuk di ruang di mana pertemuan akan digelar itu. Dengan suara lantang (keras), benny mengatakan, kamu ini mahasiswa apa bukan, kamu jurusan apa dan fakultas apa? Apa kepeintang kalian masuk di sini? Pergi…!!! Pergi !!! dan keluar.
Satu dari 7 orang tersebut kemudian mengangkat bajunya dan hendak menunjukan pistolnya yang diselipkan antara pinggang dan celananya.
Upaya mematikan psikologi yang adalah terror itu kemudian dilakukan kea rah mahasiswa di dalam kampus uncen, tepatnya di ruangan kampus yang sebenarnya tidak penting aparat masuk ke dalam kampus karena adanya otoritas kampus.
Ada apa dengan pihak militer Indonesia yang dengan beraninya masuk sampai pada intervensi di kampus tersebut?
Apakah ada upaya militer untuk mematikan Sumber Daya Manusia Papua?
Jika di dalam kampus saja pun, militer berani dan masuk untuk mematikan psikologi orang papua dengan cara menteror mental, bagi mana dengan mama-mama atau masyarakat yang ada dipelosok-pelosok?
Sungguh kejam bangsa Indonesia ini.
By: Marthen Goo
Senin, 26 Juli 2010
MALARIA MEMATIKAN 53 RAKYAT PAPUA

Korban Tewas di Intan Jaya Jadi 53 Orang
JAYAPURA—Korban tewas akibat wabah penyakit malaria di sejumlah wilayah di Kabupaten Intan Jaya dalam tiga bulan terakhir ini bertambah. Jika sebelumnya dilaporkan 43 orang, namun data resmi dari Dinas Kesehatan setempat yang diterima DPRP di Jayapura korban tewas menjadi 53 orang.
Hal ini disampaikan Yulius Miagoni SH, Anggota Komisi A DPRP di ruang kerjanya, Senin (26/7). Dikatakan, Dinas Kesehatan Intan Jaya serta Dinas Kesehatan Provinsi Papua telah melakukan pengobatan terhadap pasien yang terkena malaria, serta melakukan fogging (pengasapan) di beberapa lokasi yang diduga tempat bersarangnya nyamuk, namun warga masih mengeluh lantaran penanganan terhadap wabah malaria belum tuntas dan korbanya makin bertambah.
Namun demikian, lanjutnya, untuk mencegah agar tak menelan korban yang lebih banyak lagi, maka diharapkan pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Intan Jaya, Pemprov Papua serta pemerintah pusat dapat melakukan pengobatan massal terhadap pasien yang tertular malaria di beberapa lokasi yang diduga sebagai sumber malaria.
Karena itu, lanjutnya, DPRP minta Dinas Kehatan Intan Jaya dan Dinas Kesehatan Provinsi Papua agar segera menyalurkan bantuan seperti obat obatan, peralatan medis serta dana kepada warga di sejumlah wilayah di Intan Jaya.
Menurutnya, pasca operasi yang dilakukan Dinas Kesehatan Intan Jaya dan Dinas Kesehatan Provinsi Papua ditemukan dibeberapa wilayah di Kabupaten Intan Jaya terdapat sejumlah kolam ikan yang belum dimanfaatkan ternyata bersarang dan berkembang biak nyamuk anopheles. Tapi kini sejumlah kolam ikan tersebut telah dipelihara ikan kepala emas yang dapat memangsa nyamuk.
Dia mengatakan, pihaknya juga kecewa menyusul pihak Dinas Sosial Provinsi Papua pasca jatuhnya korban tak pernah menanggapi permohonan bantuan pakaian dan makanan yang disampaikan pemerintah daerah setempat. (mdc)
Sumber:
http://bintangpapua.com/index.php?option=com_content&view=article&id=6204:korban-tewas-di-intan-jaya-jadi-53-orang-&catid=25:headline&Itemid=96#JOSC_TOP
AS-Korsel Gelar Latihan Anti Kapal Selam

AS-Korsel Gelar Latihan Anti Kapal Selam
Senin, 26 Juli 2010 | 20:39 WIB
SEOUL, KOMPAS.com - Kapal-kapal perang Amerika Serikat dan Korea Selatan melancarkan latihan anti kapal selam, Senin (26/7). Latihan itu merupakan bagian dari latihan angkatan laut penting yang bertujuan untuk menyampaikan peringatan kepada Korea Utara.
Kedua sekutu itu, yang menuduh Korea Utara (Korut) mengirim sebuah kapal selam untuk mentorpedo sebuah kapal perang Korea Selatan (Korsel), mengikutsertakan sekitar 20 kapal termasuk kapal induk USS George Washington yang berbobot mati 97.000 ton, 200 pesawat dan 8.000 personel. Empat pesawat tempur siluman F-22 terbang di dan sekitar Korea untuk pertama kali demi menunjukkan komitmen kuat Washington dalam menangkal dan mengalahkan setiap aksi provokatif, kata Letjen Jeffrey Remington, komandan Angkatan Udara VII kepada wartawan di pangkalan udara Osan.
Seoul dan Washington mengatakan, latihan empat hari itu yang dimulai Minggu, terbesar dalam beberapa tahun dan pertama dalam serangkaian pelatihan, bertujuan untuk menekankan bahwa serangan-serangan pada masa depan akan menghadapi tanggapan yang menentukan.
AS juga mengumumkan sanksi-sanksi baru untuk menghukum Korut atas tenggelamnya kapal perang itu dan mendesak Pyongyang menghentikan program senjata nuklirnya. Korut yang komunis menolak bertanggung jawab atas serangan terhadap korvet Korsel pada Maret lalu yang menewaskan 46 pelaut itu. Negara itu menyebut latihan "Invincible Spirit" itu sebagai satu latihan untuk perang.
"Latihan, Senin, dipusatkan mendeteksi lebih baik penyusupan satu kapal selam musuh dan menyerang mereka," kata seoarng juru bicara ketua Gabungan Kepala Staf Korsel kepada wartawan.
Militer Korsel mendapat kecaman keras karena gagal mendeteksi serangan kapal selam dekat perbatasan Laut Kuning yang disengketakan itu.
sumber;
http://internasional.kompas.com/read/2010/07/26/20392735/AS.Korsel.Gelar.Latihan.Anti.Kapal.Selam
BANYAK BELAJAR DI LUAR NEGERI, TAK MENGERTI SIFAT MATERI

Pesimisnya Nicholas Meset, Menunjukan Ketidak Pengertiannya Serta Mengatakan Dirinya Tak Mengerti Revolusioner dan Hukum Internasional.
Seorang revolusioner yang baik dan sejati, selalu komitmen dan optimis dalam sebuah perjuangan yang dilakukannya. Hal itu terlihat dengan berberapa Revolusioner dunia yang menunjukan komitme dan optimisnya mereka dalam perjuangan. Toko-toko revolusioner itu seperti Nelson Mandela, Gandi, Sana, dan lainnya.
Namun hal ini sangatlah lumrah dan lucu, di mana Nicholas Meset yang mengangkat dirinya adalah pejuan harus menyerah, dan mengapdi kepada Indonesia serta difasilitasi oleh pemerintah untuk melakukan pendidikan propaganda kepada rakyat Papua bahwa isu Merdeka Hanya melelahkan dan mahkama Internasional telah mengakui Pepera 1969 sah ( Baca: minggu, 25 juli 2010). Sementara, Nicholas Meseta tak mampu memberikan dasar hukum bahwa Pepera itu sah.
Dalam perjnjian new york, di sana dikatakan bahwa “one man, one vote” (satu orang satu suara), namun itu kemudian dimanipulasi oleh Indonesia dengan mencopot 1025 orang (katanya 1025 orang mewakili 800.000 orang papua, yang sebenarnya sudah melanggar perjanjian roman tersebut), dan dibawah tekanan militer Indonesia, mereka diarahkan untuk harus memilih Indonesia. Beberapa dari mereka yang pilih Papua Merdeka harus lari ke Pasifik karena mereka dikejar untuk mau dibunuh, seperti Alm. Wim Songgonao dan teman-temannya. Di sitiuasi itu, hak dan kebebasan untuk menentukan nasip dan masa depannya sendiri pun tak diakui oleh Indonesia. Dibawah ancaman dan bantaian, mereka dipaksakan untuk harus memilih Indonesia. Sehingga berdasarkan sejarah itu, maka Pepera sungguh tidak sah, karena keabsaannya tidak memiliki dasar hukum, baik secara hukum nasional Indonesia, maupun hukum internasional.
Kepesemisan Nicholas Meset dan yang lainnya, menunjukan bahwa mereka tak memiliki komitmen dan pandangan yang baik tentang Hukum Indoternasional walau banyak belajar di luar Negeri. Karena selain Pepera yang cacat hukum, tapi juga bahwa yang namanya materi itu selalu berubah bentuk, dari yang satu menjadi yang lain. Misalnya, besi dalam proses perubahan waktu, mengalami proses perubahan ke arah kekaratan. Begitu juga dengan kemerdekaan sebuah Negara. Negara merdeka di seluruh dunia pun, sebelumnya dalam proses perjuangan mengalami nasip yang sama, yakni sering ada anggapan bahwa susah menunju kemerdekaan, namun akhirnya merdeka juga. Hal itu seperti Indonesia. dalam proses jajahan yang dialami. Sebelumnya Indonesia pun beranggapan bahwa Indonesia tidak akan merdeka, namun karena komitmen dan keseriusan para revolusioner, maka Indonesia pun merdeka.
Bagimana dengan Papua?
Papua pun akan mengalami perubahan materi. Karena perubahan materi selalu terjadi berdasarkan penyebab. Dan penyebab itu justru dilakukan oleh Indonesia sendiri. Misalnya dengan Genosida (pemusnaan etnis asli Papua) yang hendak dilakukan oleh Indonesia atas papua.
Berdasarkan itu maka, poin penegasan bahwa:
1) Pepera cacat hukum
2) Perubahan materi akan terjadi, dan itu dilahirkan oleh Indonesia, sehingga Papua pasti Merdeka
Selasa, 26 juli 2010
(renungan dibalik sebuah fakta sejarah dan kondisi nyata)
Oleh: marthen goo
Info dukungan:
http://bintangpapua.com/index.php?option=com_content&view=article&id=6173:isu-merdeka-hanya-melelahkan&catid=25:headline&Itemid=96
Minggu, 25 Juli 2010
RENCANA AKSI MAHASISWA UNCEN ASLI PAPUA
Senin, 26 July 2010
Gambar: 6 truk brimob dan 1 mobil open cup dengan Pasukan Brimob bersenjata lengkap di Gapuran UncenPerumnas 3

Polisi Dengan Senjata Lengkapnya Mendatangi Wilayah Kampus
UNIVERSITAS CENDERAWASIH (uncen) adalah sebuah univrsitas tua di Papua yang lahir karena persoalan sejarah. Sumberdaya manusia Papua berkembang dan bertumbuh melalui sebuah sarana kampus yakni uncen tersebut.
Uncen merupakan sebuah Universitas ternama di Papua yang melahirkan banyak sekali generasi muda Papua yang andal dan baik untuk membangun Negeri Papua, berdasrkan ilmu yang dimilikinya. Dengan pengalaman dan gambaran demikianlah, kemudian seluruh anak-anak Papua yang berasal dari berbagai daerah harus berbondong-bondong ke propinsi Papua, guna melanjuti pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi.
Diketahui bahwa, uncen merupakan rumah orang Papua, sehingga dirumah itulah orang Papua harus menekuni pendidikannya. Harapan orang Papua keluar Papua sangat minim, dikarenakan keraguan atas tidak diterimanya mereka di universitas Negeri di daerah lain sangatlah kuat dan hal itu terjadi, yang mana Universitas Negeri di Daerah itu tentunya pun akan mengutamakan anak-anak daerah di mana Universita Negeri itu di bangun.
Dengan pandangan seperti di atas, maka Uncen merupakan alternative terakhir anak-anak Papua untuk menekuni bangku pendidikan mereka di Universitas Negeri terlepas dari uncen merupakan sejarah bagi bangsa Papua.
Melihat itu, kemudian desakan dari mahasiswa Papua bahwa, Calon Mahasiswa Papua harus di terima 90%-95%, sementara sisanya adalah pendatang. Hal itu disampaikan karena Pendatang memiliki banyak alternative pendidikan yang bisa didapatkan. Misalnya, pendatang orang makasar, biasa kembali ke makasar dan mendaftarkan diri di kampong alaman mereka, begitu juga jawa, batak dan lainnya.
Terlepas dari itu juga, Uncen dibangun hanya dalam rangkan meningkatkan mutu pendidikan orang Papua kearah yang lebih baik dan tepat.
Namun kini, hal itu sangatlah disesalkan, dikarenakan penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2010-2011, dinilai tidak mencapai target maksimal. Dimana orang pendatang diprediksikan diterma 30-40%.
Melihat hal itu, kemudian mahasiswa Papua dan rakyat papua berkeinginan untuk harus melakukan aksi protes kepada Uncen yang tanpa disadari pun akan menipis SDM Papua. Dan hal rencana itu pun kemudian dicium oleh pihak Kepolisian dan akhirnya Polisi menggerakkan 6 Truk dan 1 mobil opencup dengan personil brimob lengkap dengan senjata lengkapnya ke kampus uncen perempunas 3.
Sungguh aneh, Polisi hendak masuk kampus. Kenapa polisi seakan mendukung kebijakan Uncen yang hendak mematikan SDM orang papua? Apa kepentingan kepolisian? Polisi yang seharusnya melindungi rakyat dan menopang lahirnya sumber daya manusia pun justru mematikan SDM.
Oleh: Marthen Goo
Gambar: 6 truk brimob dan 1 mobil open cup dengan Pasukan Brimob bersenjata lengkap di Gapuran UncenPerumnas 3

Polisi Dengan Senjata Lengkapnya Mendatangi Wilayah Kampus
UNIVERSITAS CENDERAWASIH (uncen) adalah sebuah univrsitas tua di Papua yang lahir karena persoalan sejarah. Sumberdaya manusia Papua berkembang dan bertumbuh melalui sebuah sarana kampus yakni uncen tersebut.
Uncen merupakan sebuah Universitas ternama di Papua yang melahirkan banyak sekali generasi muda Papua yang andal dan baik untuk membangun Negeri Papua, berdasrkan ilmu yang dimilikinya. Dengan pengalaman dan gambaran demikianlah, kemudian seluruh anak-anak Papua yang berasal dari berbagai daerah harus berbondong-bondong ke propinsi Papua, guna melanjuti pendidikan mereka ke jenjang yang lebih tinggi.
Diketahui bahwa, uncen merupakan rumah orang Papua, sehingga dirumah itulah orang Papua harus menekuni pendidikannya. Harapan orang Papua keluar Papua sangat minim, dikarenakan keraguan atas tidak diterimanya mereka di universitas Negeri di daerah lain sangatlah kuat dan hal itu terjadi, yang mana Universitas Negeri di Daerah itu tentunya pun akan mengutamakan anak-anak daerah di mana Universita Negeri itu di bangun.
Dengan pandangan seperti di atas, maka Uncen merupakan alternative terakhir anak-anak Papua untuk menekuni bangku pendidikan mereka di Universitas Negeri terlepas dari uncen merupakan sejarah bagi bangsa Papua.
Melihat itu, kemudian desakan dari mahasiswa Papua bahwa, Calon Mahasiswa Papua harus di terima 90%-95%, sementara sisanya adalah pendatang. Hal itu disampaikan karena Pendatang memiliki banyak alternative pendidikan yang bisa didapatkan. Misalnya, pendatang orang makasar, biasa kembali ke makasar dan mendaftarkan diri di kampong alaman mereka, begitu juga jawa, batak dan lainnya.
Terlepas dari itu juga, Uncen dibangun hanya dalam rangkan meningkatkan mutu pendidikan orang Papua kearah yang lebih baik dan tepat.
Namun kini, hal itu sangatlah disesalkan, dikarenakan penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2010-2011, dinilai tidak mencapai target maksimal. Dimana orang pendatang diprediksikan diterma 30-40%.
Melihat hal itu, kemudian mahasiswa Papua dan rakyat papua berkeinginan untuk harus melakukan aksi protes kepada Uncen yang tanpa disadari pun akan menipis SDM Papua. Dan hal rencana itu pun kemudian dicium oleh pihak Kepolisian dan akhirnya Polisi menggerakkan 6 Truk dan 1 mobil opencup dengan personil brimob lengkap dengan senjata lengkapnya ke kampus uncen perempunas 3.
Sungguh aneh, Polisi hendak masuk kampus. Kenapa polisi seakan mendukung kebijakan Uncen yang hendak mematikan SDM orang papua? Apa kepentingan kepolisian? Polisi yang seharusnya melindungi rakyat dan menopang lahirnya sumber daya manusia pun justru mematikan SDM.
Oleh: Marthen Goo
Sabtu, 24 Juli 2010
AS-Korsel Mulai Latihan Gabungan Militer
Minggu, 25 Juli 2010 | 07:25 WIB
SEOUL, KOMPAS.com - Di tengah ancaman serangan nuklir Korea Utara, Angkatan Bersenjata Amerika Serikat dan Korea Selatan memulai latihan bersama di Laut Jepang, Minggu (25/7/2010).
Dalam pernyataan bersamanya, Menteri Pertahanan AS Robert Gates dan Menteri Pertahanan Korea Selatan (Korsel) Kim Tae-Young mengatakan, rangkaian latihan militer ini merupakan pesan yang jelas untuk Korea Utara (Korut).
"Korut harus menghentikan perilaku agresifnya," kata penyataan dua Menteri Pertahanan tersebut.
Mengutip hasil investigasi internasional atas insiden penembakan kapal perang Korsel di dekat perbatasan perairan Laut Kuning Maret lalu, AS dan Korsel menuduh Pyongyang bertanggungjawab.
Menurut kedua negara itu, Korut mengirim satu kapal selamnya untuk menembak kapal perang Cheonan, yang menewaskan 46 orang awaknya.
Latihan perang bersama AS-Korsel yang direncanakan berlangsung empat hari itu melibatkan 20 kapal, termasuk kapal induk USS George Washington, dan sekitar 200 pesawat tempur.
Komandan PBB pimpinan AS menyebutkan latihan yang berlangsung Minggu dini hari itu juga melibatkan 8.000 orang tentara dari kedua negara.
Semula latihan yang dimulai Minggu dini hari itu akan digelar di Laut Kuning (Laut Barat) yang sensitif bagi Korut namun kemudian dipindahkan ke Laut Jepang setelah China protes.
Namun latihan-latihan berikutnya akan digelar di dua perairan tersebut.
Korut memandang latihan bersama AS-Korsel ini sebagai ancaman. Karenanya, Pyongyang, Sabtu, mengancam akan meresponnya dengan serangan senjata nuklir.
Ancaman terhadap latihan militer bersama kedua negara sudah berulang kali disuarakan Korut.
Komisi Pertahanan Nasional Korut menyebut semua latihan militer AS-Korsel ini sebagai manuver perang dan provokasi untuk melumpuhkan Pyongyang dengan kekuatan senjata.
Militer Korsel sendiri terus memantau secara seksama kondisi dan pergerakan pasukan Korut di perbatasan namun sejauh ini tidak ada kegiatan-kegiatan yang tak biasa di sana menjelang pelaksanaan latihan militer bersama AS-Korsel ini.
Sumber:
http://internasional.kompas.com/read/2010/07/25/07251948/AS.Korsel.Mulai.Latihan.Gabungan.Militer
SEOUL, KOMPAS.com - Di tengah ancaman serangan nuklir Korea Utara, Angkatan Bersenjata Amerika Serikat dan Korea Selatan memulai latihan bersama di Laut Jepang, Minggu (25/7/2010).
Dalam pernyataan bersamanya, Menteri Pertahanan AS Robert Gates dan Menteri Pertahanan Korea Selatan (Korsel) Kim Tae-Young mengatakan, rangkaian latihan militer ini merupakan pesan yang jelas untuk Korea Utara (Korut).
"Korut harus menghentikan perilaku agresifnya," kata penyataan dua Menteri Pertahanan tersebut.
Mengutip hasil investigasi internasional atas insiden penembakan kapal perang Korsel di dekat perbatasan perairan Laut Kuning Maret lalu, AS dan Korsel menuduh Pyongyang bertanggungjawab.
Menurut kedua negara itu, Korut mengirim satu kapal selamnya untuk menembak kapal perang Cheonan, yang menewaskan 46 orang awaknya.
Latihan perang bersama AS-Korsel yang direncanakan berlangsung empat hari itu melibatkan 20 kapal, termasuk kapal induk USS George Washington, dan sekitar 200 pesawat tempur.
Komandan PBB pimpinan AS menyebutkan latihan yang berlangsung Minggu dini hari itu juga melibatkan 8.000 orang tentara dari kedua negara.
Semula latihan yang dimulai Minggu dini hari itu akan digelar di Laut Kuning (Laut Barat) yang sensitif bagi Korut namun kemudian dipindahkan ke Laut Jepang setelah China protes.
Namun latihan-latihan berikutnya akan digelar di dua perairan tersebut.
Korut memandang latihan bersama AS-Korsel ini sebagai ancaman. Karenanya, Pyongyang, Sabtu, mengancam akan meresponnya dengan serangan senjata nuklir.
Ancaman terhadap latihan militer bersama kedua negara sudah berulang kali disuarakan Korut.
Komisi Pertahanan Nasional Korut menyebut semua latihan militer AS-Korsel ini sebagai manuver perang dan provokasi untuk melumpuhkan Pyongyang dengan kekuatan senjata.
Militer Korsel sendiri terus memantau secara seksama kondisi dan pergerakan pasukan Korut di perbatasan namun sejauh ini tidak ada kegiatan-kegiatan yang tak biasa di sana menjelang pelaksanaan latihan militer bersama AS-Korsel ini.
Sumber:
http://internasional.kompas.com/read/2010/07/25/07251948/AS.Korsel.Mulai.Latihan.Gabungan.Militer
Di Balik Normalisasi Kerja Sama RI-AS
Minggu, 25 Juli 2010 | 09:58 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Ada yang luput dari perhatian saat Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro menggelar konferensi pers seusai bertemu Menteri Pertahanan AS Robert Gates, Kamis (22/7/2010). Perhatian terpusat pada normalisasi Komando Pasukan Khusus (Kopassus), pasukan elite TNI AD, dengan AS. Padahal, Purnomo mengeksplorasi beberapa hal yang menjadi pusat perhatian Gates, yaitu pengamanan Laut China Selatan.
Soal ini, AS meminta Indonesia menjaga terusan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) agar bebas ancaman. Kepentingan AS soal Laut China Selatan meningkat. Ini akibat semakin intensifnya Angkatan Laut China yang mengubah strategi dari pertahanan lepas pantai menjadi pertahanan laut jauh.
Pada 18 Maret lalu, enam kapal perang China pertama kali melakukan latihan perang di Fiery Cross Reef, kepulauan di antara Vietnam-Malaysia–Filipina. Lalu, menurut New York Times, seorang pejabat militer China menyebut Laut China Selatan sebagai core national interest yang sejajar dengan Tibet. Tindakan China makin menjadi-jadi di Laut China Selatan.
Peran Indonesia sebagai negara kepulauan dan kebijakan luar negeri kita yang tidak berpihak dan perkembangan demokrasi di Indonesia membuat ”Paman Sam” memberikan gula-gulanya. Hubungan militer RI-AS belum pulih. Hukum Leahy sejak 2001 membuat AS tidak boleh memberikan bantuan militer ke sebuah negara yang melanggar HAM.
Komandan Jenderal Kopassus Mayor Jenderal Lodewijk F Paulus berangkat ke AS untuk melobi. Sepulang dari AS, di Kopassus terjadi pergeseran komandan. Kini kaum muda yang menjabat di Kopassus nihil catat HAM. Kerja sama Kopassus dengan AS di bidang pendidikan dan bantuan alat adalah urusan nomor dua dibandingkan dengan penghapusan noda soal HAM. Tidak banyak yang bisa diharapkan dengan pernyataan Gates yang berbunyi, ”a measured and gradual program of security cooperation activities”. Gates juga menyatakan tetap melihat reformasi TNI dan internal Kopassus. Gates memang harus hati-hati. Pernyataannya yang abu-abu itu langsung dikomentari negatif oleh Senator Leahy dari Partai Demokrat, yang menentang pemulihan kerja sama AS dengan Kopassus.
Kopassus milik rakyat
Kopassus seharusnya tidak menganggap rangkulan basa-basi AS sebagai simbol penebusan dosa. Rakyat Indonesia adalah pemilik Kopassus. Kepada rakyatlah kewajiban terbesar Kopassus secara khusus dan TNI harus dipertanggungjawabkan. Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso dengan tegas mengatakan, masalah Kopassus dianggap selesai dengan diadilinya beberapa prajurit dan perwira di Pengadilan Militer. Namun, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan demi akuntabilitas institusi TNI. Akuntabilitas bisa tercapai kalau ada pengakuan formal yang tegas akan terjadinya kejahatan HAM di masa lalu.
Deretan pekerjaan rumah di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono belum selesai. Pengadilan Ad Hoc HAM belum juga terwujud, padahal sudah setahun DPR merekomendasikan hal tersebut untuk keluarga orang hilang sekitar tahun 1997-1998. Beberapa kasus seperti pembunuhan Rozy Munir dan hasil investigasi Komnas HAM belum ada yang pernah ditindaklanjuti. Revisi sistem Peradilan Militer juga belum selesai setelah terjadi kemandekan dalam penyusunan RUU ini dalam periode DPR lalu. (EDN)
Sumber:
http://nasional.kompas.com/read/2010/07/25/09584737/Di.Balik.Normalisasi.Kerja.Sama.RI.AS
JAKARTA, KOMPAS.com - Ada yang luput dari perhatian saat Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro menggelar konferensi pers seusai bertemu Menteri Pertahanan AS Robert Gates, Kamis (22/7/2010). Perhatian terpusat pada normalisasi Komando Pasukan Khusus (Kopassus), pasukan elite TNI AD, dengan AS. Padahal, Purnomo mengeksplorasi beberapa hal yang menjadi pusat perhatian Gates, yaitu pengamanan Laut China Selatan.
Soal ini, AS meminta Indonesia menjaga terusan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) agar bebas ancaman. Kepentingan AS soal Laut China Selatan meningkat. Ini akibat semakin intensifnya Angkatan Laut China yang mengubah strategi dari pertahanan lepas pantai menjadi pertahanan laut jauh.
Pada 18 Maret lalu, enam kapal perang China pertama kali melakukan latihan perang di Fiery Cross Reef, kepulauan di antara Vietnam-Malaysia–Filipina. Lalu, menurut New York Times, seorang pejabat militer China menyebut Laut China Selatan sebagai core national interest yang sejajar dengan Tibet. Tindakan China makin menjadi-jadi di Laut China Selatan.
Peran Indonesia sebagai negara kepulauan dan kebijakan luar negeri kita yang tidak berpihak dan perkembangan demokrasi di Indonesia membuat ”Paman Sam” memberikan gula-gulanya. Hubungan militer RI-AS belum pulih. Hukum Leahy sejak 2001 membuat AS tidak boleh memberikan bantuan militer ke sebuah negara yang melanggar HAM.
Komandan Jenderal Kopassus Mayor Jenderal Lodewijk F Paulus berangkat ke AS untuk melobi. Sepulang dari AS, di Kopassus terjadi pergeseran komandan. Kini kaum muda yang menjabat di Kopassus nihil catat HAM. Kerja sama Kopassus dengan AS di bidang pendidikan dan bantuan alat adalah urusan nomor dua dibandingkan dengan penghapusan noda soal HAM. Tidak banyak yang bisa diharapkan dengan pernyataan Gates yang berbunyi, ”a measured and gradual program of security cooperation activities”. Gates juga menyatakan tetap melihat reformasi TNI dan internal Kopassus. Gates memang harus hati-hati. Pernyataannya yang abu-abu itu langsung dikomentari negatif oleh Senator Leahy dari Partai Demokrat, yang menentang pemulihan kerja sama AS dengan Kopassus.
Kopassus milik rakyat
Kopassus seharusnya tidak menganggap rangkulan basa-basi AS sebagai simbol penebusan dosa. Rakyat Indonesia adalah pemilik Kopassus. Kepada rakyatlah kewajiban terbesar Kopassus secara khusus dan TNI harus dipertanggungjawabkan. Panglima TNI Jenderal Djoko Santoso dengan tegas mengatakan, masalah Kopassus dianggap selesai dengan diadilinya beberapa prajurit dan perwira di Pengadilan Militer. Namun, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan demi akuntabilitas institusi TNI. Akuntabilitas bisa tercapai kalau ada pengakuan formal yang tegas akan terjadinya kejahatan HAM di masa lalu.
Deretan pekerjaan rumah di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono belum selesai. Pengadilan Ad Hoc HAM belum juga terwujud, padahal sudah setahun DPR merekomendasikan hal tersebut untuk keluarga orang hilang sekitar tahun 1997-1998. Beberapa kasus seperti pembunuhan Rozy Munir dan hasil investigasi Komnas HAM belum ada yang pernah ditindaklanjuti. Revisi sistem Peradilan Militer juga belum selesai setelah terjadi kemandekan dalam penyusunan RUU ini dalam periode DPR lalu. (EDN)
Sumber:
http://nasional.kompas.com/read/2010/07/25/09584737/Di.Balik.Normalisasi.Kerja.Sama.RI.AS
PEMBUANGAN SAMPAH DI SEPANJANG SELOKAN DAN PARIT, MENGOTORI LINGKUNGAN, DANAU SENTANI DAN PANTAI PAPUA.
24 July 2010
Kebiasaan Jawa-Makasar, Diterapkan Di Papua: Merusak Alam dan Lingkungan Yang Sebelumnya Terlihat Indah Nan Permai.
Sebelumnya, Papua terlihat indah dengan keindahan alam dan lingkungannya yang bersahabat dengan manusia. Tiap hirupan nafas yang dihirupkan manusia, memberikan kelegahan pada saluran pernafasan yang melegahkan paru-paru.
Namun kini sangat disayang, ketika banyak orang makasar dan Jawa masuk ke Papua, banyak hal buruk yang diterapkan di Papua, yakni dengan membuang sampah tidak pada tempatnya (membuang sampah disembarangan tempat).
Selokan dan parit berserahkan dengan barbagai jenis sampah, baik pelastik, botol, kaleng, dan lain-lainnya, yang mana sampah itu dialiri oleh air ke danau dan pantai yang mengakibatkan pantai dan danau pun ikut tercemar. Sungguh kecam manusia migrant yang merusak dan mengotori lingkungan Papua yang dulunya alamia, kini menjadi jorok dan buruk dipandang manusia.
Pemerintah kota dan tata kota serta dinas kebersihan pun tak terlihat funsinya.
Papua yang indah kini pun hancur dikotori oleh manusia yang tak memiliki kepedulian bahwa lingkungan penting untuk dibersihkan.
Hal serupa terlihat seperti di Jakarta, baik di kali ciliwung dan parit di samping istana yang membuang sampah tidak pada tempatnya, yang mengakibatkan udara di Jakarta penuh dengan polusi.
Sungguh sedih, penerapan Jawa-Makasar diterapkan di Papua.
Oleh: Marthen Goo
PROSES MARJINALISASI RAKYAT BANGSA PAPUA
Berhamburnya Rukoh Di Sepanjang Jalan Utama Jayapura, Meminggirkan Kaum Minoritas Papua.
24 July 2010.
Banyak Sekali rukoh yang kini dibangung di sepanjang jalan di Kota Jayapura. Pembagunan rukoh ini menempati tempat-tempat yang dianggap strategi. Banyaknya rukoh yang dibangun, kini pun meminggirkan orang asli Papua dari tanahnya sendiri.
Banyak dana yang mengalir ke Papua karena Otsus, kini mengajak semua orang dari luar untuk harus berbondong-bondong ke papua untuk merebut banyaknya uang otsus di Tanah Papua tersebut. Banyak pembangunan yang dibangun kiri dan kanan, namun pembangunan itu hanya diperuntuhkan oleh pendatang atau yang sering juga disebut oleh Bapak Pendeta Dr. BENNY GIAY “Pembangunan Bias Pendatang”. Hal itu terbukti dengan banyaknya rukoh yang dibuat, tapi tak satu pun rukuh itu milik Papua.
Pemerintah tak sanggup memberdayakan keaslian bagi orang asli Papua. Orang Papua selalu dianggap tidak mampu dan kemudian tidak diberdayakan. Dengan lebel itulah kemudian orang asli Papua dimarjinalisasikan
Oleh Marthen Goo
Langganan:
Postingan (Atom)